Nama-Nama Rumah Adat di Sumatera Selatan, Nomor 2 Pernah Tercetak di Uang Kertas

berli · Rabu, 24 Agustus 2022 - 14:56:00 WIB
Nama-Nama Rumah Adat di Sumatera Selatan, Nomor 2 Pernah Tercetak di Uang Kertas
Rumah rakit yang terdapat di Sungai Musi Palembang. (Foto: pariwisata indonesia)

Pada perkembangannya pada masa kesultanan, konon rumah rakit dibuat oleh pendatang yang tidak memiliki tanah. Pendatang dari berbagai daerah yang hendak menetap di Palembang namun tidak memiliki tanah, sehingga mendirikan tempat tinggal di atas air atau rumah rakit. 

2. Rumah Limas

Nama rumah adat di Sumatera Selatan satu ini paling popular. Di banyak tempat di Kota Palembang mudah ditemukan rumah limas. Rumah limas juga terdapat di uang kertas pecahan Rp10.000.

Rumah limas tidak hanya berfungsi sebagai hunian saja, rumah limas juga mengajarkan banyak nilai-nilai kehidupan. Di setiap sudut rumah berbentuk panggung dan beratap limas, terkandung filosofi keseimbangan antara manusia, alam dan Tuhan Yang Maha Esa. 

Rumah Limas awalnya dibangun sekitar tahun 1830 oleh Kepala Suku Bangsa Arab di masa Kolonial Belanda yang bernama Syarif Abdurrahman Al-Habsy. Banyak etnis yang terlibat dalam pembangunan Rumah Limas, seperti etnis Melayu, Jawa, Islam hingga Tionghoa. 

Namun Rumah Limas yang dibangun di masa Kesultanan Palembang Darussalam tersebut, juga sarat akan nilai-nilai budaya Islam. Tiang-tiang kokoh yang menyangga bagian bawah Rumah Limas pun menggambarkan bagaimana hunian ini beradaptasi dengan kontur daerah Palembang. Di masa lalu, hingga 75 persen kawasan Palembang merupakan rawa atau perairan.

Rumah limas yang paling populer dan pernah dicetak pada uang kertas Rp10.000. (Foto: budaya indonesia)
Rumah limas yang paling populer dan pernah dicetak pada uang kertas Rp10.000. (Foto: budaya indonesia)

Di dalam Rumah Limas, ada berbagai tingkatan yang juga sarat akan filosofi kehidupan. Tingkat pertama disebut pagar tenggalong, tingkatan kedua disebut Jogan, yang menjadi ruang penjagaan untuk prajurit. 

Tingkatan ketiga yaitu ruang gegajah, di mana ruangan ini khusus untuk tamu kehormatan atau orang yang dituakan. Lalu, di tingkatan ke empat yaitu ruang kerja yang digunakan untuk memasak, menenun dan aktifitas lainnya. Sedangkan tingkatan ke lima disebut Sesimbur Pengantin, yang biasanya lebih dekat dengan sumber air. Tingkatan ini juga biasanya digunakan untuk toilet di masa lalu, agar bisa lebih dekat dengan Sungai Musi.

3. Rumah Cara Gudang 

Beberapa wilayah juga hanya menyebut rumah ini sebagai rumah gudang. Rumah adat ini masih satu rumpun dengan rumah limas yang mana tergolong sebagai rumah iliran, namun juga terdapat di beberapa daerah ulu seperti Kabupate Musi Rawas. 

Sebagai contoh, di Desa Maru Baru, Kecamatan Rupit, Musi Rawas Utara (Muratara) terdapat satu rumah adat cara gudang yang masih berdiri. Namun kondisinya mulai usang butuh perbaikan. 

Rumah cara gudang. (Foto: putuliliksupandi.blogspot)
Rumah cara gudang. (Foto: putuliliksupandi.blogspot)

Rumah adat cara gudang juga berbentuk rumah panggung, namun atapnya berupa perisai. 
Menurut sejarahnya, rumah cara gudang lebih banyak digunakan sebagai tempat tinggal masyarakat kalangan biasa. Bagian bawah rumah dijadikan gudang tempat menyimpan hasil bumi dan ladang. 

4. Rumah Ulu Besemah

Rumah Ulu Besemah juga disebut rumah adat ghumah baghi. Jenis rumah adat ulu Besemah ini bukan lagi rumah adat iliran, melainkan rumah adat uluan di sekitar bukti barisan seperti di wilayah Pagaralam.

Bentuknya hampir sama dengan rumah adat Sumatera Selatan lainnya yakni berupa rumah panggung atau bertiang. Tiang-tiangnya dibuat dari kayu berkualitas baik ditempatkan di atas batu. 

Editor : Berli Zulkanedi

Halaman : 1 2 3

Follow Berita iNewsSumsel di Google News

Bagikan Artikel: