Polda Sumsel Musnahkan Senjata Api dan Pisau Hasil Sitaan

Antara ยท Rabu, 05 Agustus 2020 - 13:41 WIB
Polda Sumsel Musnahkan Senjata Api dan Pisau Hasil Sitaan
Senjata api rakitan (Firdaus/iNews)

PALEMBANG, iNews.id - Polda Sumatera Selatan (Sumsel) memusnahkan ratusan senjata api (senpi) dan senjata tajam (sajam). Senjata api itu merupakan hasil sitaan dari operasi serta penyerahan secara sukarela dari masyarakat dalam beberapa bulan terakhir.

Pemusnahan senjata api rakitan dan pisau dilakukan di lahan tempat pembangunan gedung baru Markas Polda Sumsel, di Palembang, Rabu (5/8/2020).

Pemusnahan juga dilakuan secara simbolis dengan cara dipotong menggunakan gerinda oleh Kapolda Sumsel Irjen Pol Eko Heri, Gubernur Sumsel Herman Deru, Wali Kota Palembang Harnojoyo.

"Sebanyak 257 senjata api rakitan laras panjang, 79 senjata laras pendek, 85 senjata tajam jenis pisau, serta 107 amunisi kami musnahkan," kata Eko.

Eko menambahkan, senpi dan sajam di Sumsel perlu ditertibkan karena untuk mencegah penyalahgunaan. Menurut dia, senjata itu biasa digunakan untuk kejahatan jalanan seperti pencurian dengan kekerasan, pencurian dengan pemberatan, pembunuhan.

"Melalui penertiban dan pemusnahan itu diharapkan ke depan bisa diminimalkan tindak kejahatan yang dapat mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat," katanya.

Eko mengimbau bagi masyarakat yang masih memiliki atau menyimpan senjata api rakitan agar segera menyerahkan kepada polisi terdekat.

"Bagi masyarakat yang secara sukarela menyerahkan senjata api rakitan secara sukarela, tidak akan diproses secara hukum," katanya.

Namun, kata Eko, jika masyarakat terjaring operasi dan terbukti menyimpan atau memiliki senjata api rakitan maupun pabrikan akan ditangkap dan diproses sesuai ketentuan hukum dengan ancaman maksimal 20 tahun penjara/

"Sementara bagi masyarakat yang biasa membawa senjata tajam jenis pisau tidak pada tempatnya, diperingatkan untuk meninggalkan kebiasaan buruk itu karena kami telah mengeluarkan maklumat larangan membawa senjata tajam dan senjata api tanpa izin dengan sanksi hukum maksimal," katanya.


Editor : Nur Ichsan Yuniarto