3 Legenda di Sumatera Selatan, Horor untuk Menjaga Anak hingga Nasihat
Sejak dulu sampai sekarang, jika seorang anak kecil sering bermain atau berenang terlalu lama di sungai, biasanya akan ditegur dengan mengatakan “Ati-ati maen di sungi, gek diambek antu banyu! (hati-hati main/mandi di sungai, nanti diambil hantu air)."
Masyarakat percaya, antu banyu akan menarik korbannya ke dalam air hingga ditemukan beberapa hari kemudian dalam keadaan meninggal.
Ada dua versi mengenai awal mula munculnya Antu Banyu. Pertama, kisah mengenai putra mahkota kerajaan yang menderita bau badan menikah dengan putri dari negeri seberang. Pangeran ini badannya berbau amis yang kuat sekali, sehingga banyak yang menjauhi dan enggan menikah dengannya.
Sampai ada seorang raja yang bersedia menikahkan putrinya dengan pangeran amis. Namun, hanya dalam waktu setengah hari, si putri yang merasa tidak tahan dengan bau badan menceburkan diri ke dalam sungai dan tenggelam. Putri inilah yang menjadi antu banyu.
Versi lainnya menyebutkan, ada seorang perempuan muda yang sangat menyukai air pasang, sehingga membuat marah orang tuanya marah dan mengutuknya menjadi antu banyu.
Antu banyu dipercaya memiliki rambut panjang dan keras. Antu banyu yang memiliki habitat hidup di air biasanya menghuni gua-gua, lorong-lorong atau pusaran yang ada di dalam sungai, dan di waktu-waktu tertentu akan memangsa korbannya.
Legenda bujang kurap dipercaya menjadi asal mula terbentuknya Danau Raya di Desa Sungai Jernih Rupit, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara). Legenda bujang kurap sudah beberapa kali diangkat dalam drama televisi.
Legenda Bujang Kurap memiliki nasehat yakni untuk tidak menilai seseorang hanya dengan fisik atau penampilan. Kisah ini mengajarkan untuk saling menghargai.
Dikisahkan, pada zaman dahulu hiduplah seorang pemuda yang tampan sakti mandraguna. Ada yang menyebutkan pemuda ini masih keturunan dari Si Pahit Lidah, tokoh sakti yang terkenal dengan kutukannya. Namun ada juga yang mengisahkan pemuda ini keturunan raja di Minangkabau yang sedang mengembara. Pemuda tampan mengembara dari desa ke desa.
Editor: Berli Zulkanedi