Barang bukti pengungkapan kasus miras oplosan di Banyuasin, Sumsel. (Foto: Antara)
Antara

PALEMBANG, iNews.id - Sulianto (37), tersangka kasus kepemilikan pabrik pembuatan minuman keras oplosan di Banyuasin terancam hukuman pidana penjara lima tahun dan denda senilai Rp2 miliar. Ancaman hukuman itu sesuai dengan hasil penyidikan dan didukung kecukupan barang bukti.

Direktur Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Sumsel Kombes Pol Barly Ramadhany mengatakan ancaman hukuman maksimal tersebut sebagaimana diatur Pasal 62 juncto Pasal 8 Huruf F dan E Undang-Undang (UU) Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

Kemudian, katanya lagi, Pasal 106 juncto Pasal 24 ayat (1) UU Nomor 7 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, yang dikenakan penyidik kepada tersangka.

“Sementara untuk ancaman pidana penjaranya diatur dalam pasal tersebut, yakni selama lima tahun,” ujarnya, didampingi Kasubdit Tipidindagsi AKBP Hadi Syaefudin, Jumat (11/11/2022).

Adapun barang bukti dalam kasus ini di antaranya satu unit mobil Toyota Kijang LGX BG-1521-LO, satu alat pres tutup botol, satu tangki tedmond kapasitas 250 liter, 55 buah jeriken alkohol 70 persen. Kemudian, bahan pewarna, 200 botol kosong beserta ratusan stiker minuman palsu, dan 3.312 botol minuman keras oplosan siap edar.

“Barang bukti itu didapat di rumah tersangka di Jalan Tanjung Api-api, Talang Kelapa, Kabupaten Banyuasin. Tersangka sebelumnya tertangkap tangan mengedarkan minuman keras di Pasar Tanjung Raja, Ogan Ilir," katanya.

Menurut Barly, tersangka mengakui perbuatan sudah dijalankannya delapan bulan terakhir atau sejak sekitar bulan Maret 2022. Tersangka mengaku belajar ngoplos miras melalui video di media sosial.

“Tersangka mampu meraup untung total mencapai Rp300 juta dari hasil penjualan setiap minuman yang diraciknya sendiri, dengan campuran alkohol dan pewarna tekstil,” katanya.


Editor : Berli Zulkanedi

BERITA TERKAIT