Titik Panas Mulai Terdeteksi, Polda Sumsel Pantau 10 Wilayah Rawan Karhutla

Antara ยท Rabu, 17 Juni 2020 - 10:13 WIB
Titik Panas Mulai Terdeteksi, Polda Sumsel Pantau 10 Wilayah Rawan Karhutla
Kapolda Sumatera Selatan Irjen Pol Eko Indra Heri (Antara)

PALEMBANG, iNews.id - Polda Sumatera Selatan (Sumsel) berupaya melakukan pengawasan secara ketat terhadap 10 kabupaten dan kota di Sumsel yang berisiko mengalami kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pengawasan dilakukan karena mulai terdeteksi titik panas di Sumsel.

"Saya telah perintahkan kepada kapolres yang ada di 10 daerah rawan karhutla untuk mengawasi wilayahnya dan melakukan tindakan pencegahan dini," kata Kapolda Sumsel Irjen Pold Eko Indra Heri di Mapolda Sumsel, Rabu (17/6/2020).

Eko menambahkan, berdasarkan hasil pemetaaan, ada 10 kabupaten dan kota yang memiliki potensi terjadi karhutla pada musim kemarau, yakni Kota Palembang, Kabupaten Musi Banyuasin, Banyuasin, Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir, Muara Enim, Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Lahat, Musirawas, dan Kabupaten Musirawas Utara.

Lebih lanjut Eko mengatakan, langkah yang diambil untuk menanggulangi karhutla, pihaknya menyiagakan ratusan personel untuk mendukung Satgas Penanganan Karhutla Sumsel untuk melakukan pemadaman api jika terjadi kebakaran pada kawasan hutan dan lahan pertanian atau perkebunan.

“Selain itu kami berupaya menegakkan hukum secara tegas bagi masyarakat yang melanggar maklumat larangan membakar lahan,” kata dia.

Upaya tersebut, lanjut Eko, diharapkan membuat Sumsel dapat terhindar dari bencana kabut asap yang dapat mengganggu berbagai aktivitas warga dan mempengaruhi kesehatan masyarakat.

Sementara itu, Kepala BMKG Palembang Desindra Deddy Kurniawan mengatakan daerah yang dipetakan rawan karhutla ini, akhir-akhir ini mulai muncul banyak titik panas (hotspot).

Keberadaan titik panas tersebut perlu mendapat perhatian jajaran Polda Sumsel dan pihak terkait yang tergabung dalam Satgas Penanggulangan Karhutla.

“Sehingga tidak menimbulkan kebakaran hutan dan lahan yang dapat mengakibatkan bencana kabut asap,” katanya.

Deddy melanjutkan, musim kemarau diprakirakan terjadi pada Juli dan puncaknya pada bulan Agustus. Sehingga dengan berbagai tindakan antisipasi yang dilakukan Satgas Penanggulangan Karhutla diharapkan tidak terjadi kebakaran hutan dan lahan yang parah.


Editor : Nur Ichsan Yuniarto