Cerita Mahasiswa Sumsel di China, Warga Mengunci Diri dan Stok Makanan Mulai Menipis

Bambang Irawan ยท Minggu, 02 Februari 2020 - 06:05 WIB
Cerita Mahasiswa Sumsel di China, Warga Mengunci Diri dan Stok Makanan Mulai Menipis
Para mahasiswa asal Sumsel di China yang pulang ke Palembang lewat Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, Sabtu (1/2/2020). (Foto: iNews/Bambang Irawan)

PALEMBANG, iNews.idMahasiswa Indonesia di China yang terpaksa pulang ke Tanah Air membawa cerita menegangkan tentang kondisi di negeri Tirai Bambu itu. Mahasiswa dari Sumatera Selatan yang baru tiba di Palembang, Sabtu (1/2/2020), juga menceritakan hari-hari mereka terakhir di negara itu setelah dihantui penyebaran virus korona.

Salah seorang mahasiswa asal Sumsel dari China yang tiba di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, Adam Amrismafasyah mengatakan, perjalanan mereka dari China hingga sampai ke Tanah Air cukup lancar. Namun, mereka harus melewati penanganan yang sangat ketat untuk sampai ke Indonesia hingga tiba di Palembang.

“Selama kami di sana, pengamanan sangat ketat. Banyak pemeriksaan harus dilewati di stasiun kereta maupun bandara,” kata Adam, mahasiswa semester empat di Jingsau Normal University, saat diwawancarai usai pemeriksaan di Bandara SMB II Palembang.

Penyebaran virus korona di negara itu menimbulkan kepanikan. Pemerintah telah mengimbau warganya agar tidak keluar rumah jika bukan untuk kepentingan mendesak. Akibatnya, banyak orang memilih mengunci diri di rumah.

“Efeknya ke kita jelas yang kerasa suasana di China itu karena ada imbauan dari pemerintah kepada warga untuk tidak keluar rumah kalau tidak terdesak. Jadi semua orang mengunci diri di rumah kecuali kalau ada keperluan,” katanya.

Selain Adam, enam mahasiswa Sumsel lainnya, yakni Fauzan Nurihsan Achmad, Muhammad Rijal Fauzi, Muhammad Naufal, Raden Ayu Fierdhalita, Annisa Sekar Ayu Nur Utami, dan Muhammad Wahyu Adji Pamungkas.

Ketujuh mahasiswa tersebut menempuh pendidikan dengan beragam beasiswa di Kota XuZhou dan Zhangzhou. Dua kota itu cukup jauh dari Wuhan.

Sejak menyebarnya virus korona di Kota Wuhan dan meluas, mereka menghadapi banyak kesulitan. Akses transportasi banyak ditutup. Berbagai keperluan makanan untuk warga, khususnya mahasiswa Indonesia di tempatnya kuliah juga mulai menipis.

“Keperluan makanan di toko-toko itu sudah mulai habis. Rata-rata, pedagang sudah enggak jualan lagi. Kalaupun ada, harganya sudah naik,” ujarnya.

Meskipun kondisi di China kurang kondusif karena penyebaran virus korona, mereka bisa saja tetap bertahan di sana. Masalahnya, pemberitaan media membuat orang tua mereka cemas. Mereka akhirnya memilih pulang dengan biaya sendiri atas permintaan orang tua masing-masing.

“Orang tua kami meminta agar kami segera pulang,” ujar Adam.

Adam dan teman-temannya juga belum mengetahui sampai kapan akan di Palembang. Pihak kampus belum bisa memastikan kondisi perkuliahan setelah libur sampai 15 Februari nanti. Mereka hanya diminta tidak kembali ke China sebelum ada pemberitahuan lebih lanjut.

“Jadi belum ada tanggal yang pasti. Kalau sudah ada informasi dari kampus bahwa situasi di sana sudah aman, kami akan kembali kuliah,” kata Adam.

Adam dan enam mahasiswa lain asal Sumsel dari China tiba di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang dengan Maskapai Lion Air dari Jakarta, sekitar pukul 17.20 WIB.

Setibanya di Bandara SMB II ketujuh mahasiswa itu turun paling terakhir kemudian melewati alat pemindai suhu tubuh, kemudian petugas media dari Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Bandara SMB II Palembang memeriksa mereka lebih dalam.

Para petugas KKP Bandara SMB II Palembang mengecek kondisi tujuh mahasiswa itu menggunakan alat pemindai suhu digital dan mewawancarainya terkait riwayat perjalanan mereka, masing-masing selama 15 menit. Setelah pemeriksaan, ketujuh mahasiswa tersebut bisa pulang ke Kota Palembang, OKI, Muara Enim, Prabumulih dan Tulung Selapan.


Editor : Maria Christina