Berpendapat di media sosial yang kebablasan dapat memicu permusuhan. (Foto: Ilustrasi/Shutterstock)
Binti Mufarida

JAKARTA, iNews.id - Masyarakat diingatkan untuk tidak kebablasan saat berpendapat di media sosial (medsos) karena dapat menimbulkan permusuhan. Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin mengingatkan selain menjaga keutuhan bangsa, pemanfaatan media sosial dengan baik juga dapat dilakukan sebagai penjaga demokrasi di dunia modern ini. 

Wapres pun menegaskan demokrasi yang dulu diperjuangkan dan dijaga hanya di dunia nyata, kini juga harus dijaga di dunia digital. Untuk itu, pemanfaatan media sosial harus dilakukan sebaik-baiknya agar membawa kemaslahatan bagi banyak orang.

“Setiap orang harus mampu menjaga kebebasan dan mengeluarkan pendapat di media sosial agar jangan sampai kebablasan sehingga menimbulkan permusuhan antar saudara sebangsa,” ujar Wapres dikutip dari keterangan resminya, Sabtu (17/9/2022). 

Wapres mengatakan kebaikan atau keburukan yang terjadi akibat unggahan di media sosial juga sepenuhnya tergantung pada niat dan tujuan dari penggunanya. “Semua alat dapat membawa manfaat atau mudarat, tergantung kepada penggunanya. Sama halnya dengan media sosial. Akan menjadi berkah apabila dijadikan kendaraan untuk mengantarkan pada tujuan yang mulia yaitu melindungi dan mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum dan menjaga ketertiban dunia,” katanya.

“Sebaliknya media sosial akan menjadi bencana jika digunakan untuk menyebarkan hoaks, disinformasi, ujaran kebencian penipuan perundungan dan juga lain-lain sebagainya. Jadi ini bisa mudarat bisa maslahat,” kata Wapres. 

Bagi umat Islam, tambahnya, kehadiran media sosial juga harus dioptimalkan sebagai sarana menguatkan ukhuwah islamiyah (persaudaraan dalam Islam), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan dalam berbangsa), dan ukhuwah insaniyah (persaudaraan sesama umat manusia).

“Jangan sebaliknya justru dunia digital membuat umat di dunia nyata terpolarisasi dan terpecah belah. Ini penting,” pesannya Wapres.

“Berkata benar dengan menyampaikan fakta yang sebenarnya, tidak mengarang cerita atau membohongi publik. Perkataan yang berkesan membekas pada jiwa seseorang. Berkata untuk mengundang simpati dan mendorong yang lain untuk untuk melakukan kebaikan,” katanya.


Editor : Berli Zulkanedi

BERITA TERKAIT