Pilu, Bapak di Banyuasin Lihat Anaknya Diterkam Buaya

Antara ยท Kamis, 04 Juni 2020 - 10:47 WIB
Pilu, Bapak di Banyuasin Lihat Anaknya Diterkam Buaya
Tim gabungan mencari jenazah Joni yang diterkam buaya di Banyuasin, Sumsel (Antara)

BANYUASIN, iNews.id - Nasib pilu dialami oleh seorang pria di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan (Sumsel). Pria bernama Asidin (58) harus rela melihat anaknya Joni (30) diterkam buaya.

Komandan Pos Polisi Perairan dan Udara Sungsang, Brigadir Teguh Hari Susanto mengatakan, insiden tragis ini terjadi Rabu (3/6/2020) sekitar pukul 08.00 WIB. Saat itu, keduanya mencari daun nipah di Sungai Bungin, perairan Kecamatan Banyuasin II, Kabupaten Banyuasin, Sumsel.

Keduanya menyeberangi perairan Sungsang yang dikenal masih menjadi habitat buaya untuk mengambil pohon nipah, setelah dirasa cukup ketiganya memutuskan pulang.

Kemudian saat bersiap untuk pulang dan sudah berada di atas perahu, kaki Joni diterkam dan ditarik buaya. Sontak Joni berteriak meminta tolong. Buaya itu terus menarik Joni ke dalam sungai.

Melihat anaknya diterkam buaya, Asidin langsung melompat ke sungai. Dia berupaya menyelamatkan anaknya, namun usahanya sia-sia. Begitu keluar dari sungai, dia segera meminta bantuan masyarakat setempat serta diteruskan ke aparat keamanan.

“TIM SAR terdiri dari personel Posmat TNI AL Sungsang dan Pos Polisi Perairan dan Udara Sungsang lalu bergerak menuju perairan Sungai Bungin pukul 14.00 WIB untuk membantu warga mencari Joni,” kata Teguh, Kamis (4/6/2020).

Pencarian dilakukan dari siang hingga pukul 21.30 WIB. Tim SAR dan warga menemukan buaya.

“Buaya itu dedang menggigit tubuh Joni dengan posisi melintang, tim sempat kesulitan mengevakuasi Joni karena buaya itu melawan,” katanya.

Bahkan, kata Teguh, petugas harus memberikan tembakan ke arah badan buaya sebanyak dua kali dan akhirnya buaya melepaskan korban lalu melarikan diri. Korban yang sudah meninggal dunia segera dibawa ke rumah duka untuk dimakamkan.

Teguh mengingatkan warga agar waspada saat beraktivitas di sungai karena buaya di sungai itu sering memakan korban.


Editor : Nur Ichsan Yuniarto