Kue delapan jam. (Foto: Bambang Irawan)

PALEMBANG, iNews.id - Kue delapan jam merupakan salah satu kue khas Palembang. Kue yang membutuhkan banyak telur dan mentega ini menjadi simbol keagungan dan kemewahan di hari raya Idul Fitri. 

Memiliki cita rasa yang manis dan tekstur lembut membuat kue ini menjadi primadona saat merayakan hari lebaran. Tak heran permintaanpun melonjak hingga seratus persen sehingga menjadi berkah bagi pembuat kue tradisional di bumi Sriwijaya. 

Namun karena membutuhkan bahan yang lumayan banyak dan membutuhkan waktu hingga delapan jam saat memanggangnya. kue delapan jam hanya tersedia di waktu tertentu seperti Idul Fitri.

Dinamakan kue delapan jam karena proses pembuatannya menghabiskan waktu lebih dari delapan jam. Kue satu ini memang selalu tersaji saat perayaan hari lebaran. Penikmat kue delapan jam sengaja mencari pembuat kue terbaik agar mendapatkan kue yang sempurna. 

Salah satunya pembuat kue delapan jam di Jalan Lubuk Bakung Palembang, Dian Eka Putri. Menjelang Idul Fitr ini, ratusan loyang kue delapan jam berukuran 20 kali 20 sentimeter berhasil dijual dengan harga Rp350.000.

Untuk membuat kue delapan jam dibutuhkan 22 butir telur, gula pasir, mentega, butter, susu kental manis, dan tepung terigu. Adapun cara pembuatannya, langkah awal telur dan gula diaduk hingga gulanya larut. Kemudian masukkan susu kental manis dan kembali diaduk.

Selanjutnya masukkan mentega dan butter serta tepung terigu dan kembali diaduk sampai bercampur rata. Agar hasilnya sempurna bahan adonan kemudian disaring ke wadah yang baru.

Langkah berikutnya oleskan minyak ke dalam loyang dan masukkan adonan. Setelah siap masukkan ke dalam kukusan selama delapan jam. Untuk membuat kue delapan yang sempurna memang harus disiplin. Pasalnya, apabila waktu pengukusan ternyata kurang dari delapan jam maka tekstur kue akan mudah hancur. “Sehingga memang kesabaran diuji dalam membuat kue yang satu ini,” ucap Dian Eka Putri. 

Hingga kini kue delapan menjadi simbol kemewahan karena harganya memang tinggi. Di luar lebaran, kue ini hanya hadir di acara pernikahan keluarga berada. Karenanya keluarga muda di Palembang biasa akan mencari kue satu ini untuk disajikan di meja saat lebaran. 

Budayan Sumsel Vebri Al Lintani mengatakan, sejak dahulu kue delapan menjadi sajian untuk para bangsawan. “Dulunya kue ini hanya disajikan untuk kaum bangsawan saja,” katanya. 


Editor : Berli Zulkanedi

BERITA POPULER
+
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network