Wakil Bupati OKU Drop usai Diperiksa 12 Jam dan Ditahan Polda Sumsel

Antara, Berli Zulkanedy ยท Rabu, 15 Januari 2020 - 07:02 WIB
Wakil Bupati OKU Drop usai Diperiksa 12 Jam dan Ditahan Polda Sumsel
Wakil Bupati Ogan Komering Ulu (OKU) Johan Anuar usai diperiksa penyidik Ditreskrimsus Polda Sumsel. (Foto: Antara)

PALEMBANG, iNews.id – Penyidik Ditreskrimsus Polda Sumatera Selatan (Sumsel) memeriksa Wakil Bupati Ogan Komering Ulu (OKU) Johan Anuar selama 12 jam atas kasus korupsi dugaan mark up tanah kuburan di Baturaja. Selama diperiksa sejak pukul 09.00 WIB hingga pukul 22.10 WIB, wabup sempat drop hingga harus diperiksa tim dokter.

Kuasa Hukum Johan Anuar, Titis Rachmawati mengatakan, klien-nya diperiksa dokter Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Polda Sumsel karena mengalami penurunan kesehatan.

"Tadi ada sekitar 43 pertanyaan. Semua tidak berbeda jauh dengan pertanyaan sebelumnya di kasus ini," kata Titis, Selasa (14/1/2020) malam.

BACA JUGA: Jadi Tersangka Korupsi Tanah Kuburan, Wakil Bupati OKU Sumsel Dijebloskan ke Penjara

Dia mengungkapkan, akan mengupayakan perlindungan terhadap klien-nya dalam menjalani proses hukum ke Propam Bareskrim Polri. Hal ini lantaran diduga ada tekanan politik untuk mengganjal pencalonan klien-nya menjelang Pilkada 2020.

Usai pemeriksaan, Johan yang telah ditetapkan sebagai tersangka langsung dibawa ke ruang sel tahanan Polda Sumsel. Dia ditahan untuk kepentingan penyelidikan.

"Yang jelas setelah diperiksa ini langsung kami tahan tersangka JA," kata Direktur Reserse Krimsus Polda Sumsel Kombes Pol Anton Setyawan, Selasa (14/1/2020).

BACA JUGA: Praperadilan Wabup OKU Ditolak, Begini Kata Polda Sumsel

Sebelumnya, Johan sudah empat kali dipanggil penyidik. Namun tersangka tak kunjung hadir sampai akhirnya mengajukan praperadilan pada 19 Desember 2019. Atas gugatan praperadilan yang diajukan ke PN Baturaja, pengadilan memutuskan menolak seluruh gugatan.

Johan ditetapkan tersangka atas kasus dugaan mark-up tanah kuburan di Baturaja tahun 2012. Dalam kasus itu, hasil audit menilai ada kerugian sekitar Rp3,49 miliar.


Editor : Donald Karouw