Terungkap, Ini Alasan Virus Corona Lebih Banyak Membunuh Pria ketimbang Wanita

Anton Suhartono ยท Kamis, 26 Maret 2020 - 23:26 WIB
Terungkap, Ini Alasan Virus Corona Lebih Banyak Membunuh Pria ketimbang Wanita
Pasien suspect virus korona. (Foto: iNews/Ichsan Anshari).

WASHINGTON, iNews.id - Tingkat kematian pria akibat virus corona atau Covid-19 ternyata lebih tinggi daripada perempuan. Hal ini mengindikasikan pria lebih rrentan meninggal akibat terinfeksi virus corona dibandingkan perempuan.

Direktur Gugus Tugas Covid-19 Gedung Putih Deborah Birx mengatakan, kematian tinggi pasien berjenis kelamin pria terjadi di Italia. 58 persen kasus Covid-19 yang terdata antara 21 Februari dan 12 Maret merupakan laki-laki.

Sementara 72 persen dari total kasus kematian di periode yang sama merupakan laki-laki. Jika dijabarkan, ada 803 pria meninggal akibat corona.

Dilanjutkan, 75 persen pasien virus corona laki-laki yang dirawat di rumah sakit lebih mungkin meninggal dibandingkan pasien perempuan meskipun menerima perawatan yang sama.

Data dari beberapa negara lain juga menunjukkan kondisi serupa, kematian yang terjadi pada laki-laki lebih tinggi ketimbang perempuan.

Laporan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) China mengindikasikan kematian di kalangan laki-laki 65 persen lebih tinggi dibandingkan perempuan.

Para pakar menjelaskan, selain kebiasaan merokok dan mengonsumsi minuman keras yang dapat merusak paru-paru, faktor hormon pada pria juga bisa memengaruhi. Hal ini terkait dengan respons hormon terjahadap kekebalan tubuh.

Merokok dan mengonsumsi minuman beralkohol lebih sering dilakukan laki-laki ketimbang perempuan. Kebiasaan-kebiasaan itu dapat merusak paru-paru dan mengakibatkan peradangan saat melawan infeksi.

Selain gaya hidup seperti merokok dan minum alkohol, faktor lain adalah penyakit bawaan yang menyertai kematian akibat virus corona.

Institut penelitian yang mempelajari kesehatan antargender Global Health 50/50 menyebut, laki-laki cenderung mengidap penyakit terselubung, seperti hipertensi, gangguan jantung, dan paru-paru kronis.

"Meski sejumlah faktor lain yang dapat memicu infeksi parah, seperti riwayat merokok dan penyakit jantung, juga berbeda pada laki-laki dan perempuan, sistem imun diketahui berfungsi dengan cara yang berbeda pada tubuh keduanya (laki-laki dan perempuan)," kata ahli imunologi dan mikrobiologi Yayasan Penelitian Medis Oklahoma, Susan Kovats, kepada Xinhua.

Dia menjelaskan, perbedaan gender sangat berpengaruh dalam tingkat kemunculan dan keparahan infeksi virus pernapasan serta sejalan dengan perbedaan dalam hal aktivitas sel imun.

Sel-sel imun, lanjut Kovats, mampu merespons hormon estrogen dan testosteron. Kondisi ini mengindikasikan perbedaan kadar hormon-hormon tersebut pada laki-laki dan perempuan mungkin berperan dalam merespons imun penderita corona.

Ketika merespons beberapa virus, sel-sel pada tubuh perempuan memproduksi protein yang disebut 'interferon' dengan level lebih tinggi dibandingkan pada laki-laki.

Interferon merupakan bagian penting dari respons imun bawaan awal. Protein tersebut memicu aliran protein yang secara langsung bersifat antivirus dan bertindak untuk meredakan penyebarannya.

"Bukti memang menunjukkan bahwa produksi interferon didukung oleh estrogen. Dalam infeksi virus pernapasan, kapasitas yang lebih besar untuk memproduksi interferon dapat membantu meredakan penyebaran virus dan kerusakan paru-paru pada perempuan," tuturnya.

Profesor di Fakultas Kedokteran Universitas California Davis, Kent Pinkerton, memberikan komentar serupa. Menurut dia, respons imun antara laki-laki dan perempuan kemungkinan berkaitan dengan hormon namun kondisi ini belum dipahami dengan baik.

Namun para pakar yakin, jika ilmuwan berhasil mengungkap cara kerja hormon dalam merespons imun, mereka akan bisa membuat strategi lebih baik untuk melawan infeksi virus corona secara umum.


Editor : Nur Ichsan Yuniarto