Diancam Plt Bupati Muara Enim Tangkap Harimau, Kepala BKSDA: Kami No Comment

Berrie Brima, Antara ยท Senin, 30 Desember 2019 - 03:07 WIB
Diancam Plt Bupati Muara Enim Tangkap Harimau, Kepala BKSDA: Kami No Comment
Pemprov Sumsel dibantu relawan dari NGO memasang perangkap untuk menangkap haimau yang telah menewaskan lima warga di Sumsel. (Foto: istimewa)

PALEMBANG, iNews.id – Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan, Genman Suhefti Hasibuan menanggapi santai soal ancaman pelaksana tugas (Plt) Bupati Muara Enim agar segera menangkap harimau.

Genman mengatakan, upaya penangkapan tersebut pasti dilakukan jika harimau sudah keluar dari wilayah hutan lindung.

Menurut Genman, penangkapan binatang buas itu bukan karena ancaman Plt Bupati Muara Enim, Juarsah, yang meminta harimau ditangkap hidup atau mati.

"Kami tegaskan kembali bahwa harimau itu dilindungi Undang-undang. BKSDA memandang harimau dan manusianya sama-sama harus dilindungi, maka jika harimaunya keluar hutan lindung akan kami tangkap. Soal ancaman Bupati Muara enim kami no comment," ucap Genman, Minggu (29/12/2019).

Menurut dia, tim BKSDA di Kabupaten Muara Enim sudah menyisir keberadaan harimau sejak jatuhnya korban meninggal pada Jumat malam (27/12/2019), meskipun hingga saat ini harimau tersebut belum juga ditemukan.

Genman juga tidak bisa memastikan bahwa harimau yang berhasil ditangkap nanti merupakan individu penyerang Sulis, sebab butuh identifikasi mendalam. Namun pada dasarnya semua harimau yang kedapatan berada di luar hutan lindung memang harus ditangkap lalu dikembalikan.

Jika harimau sudah tertangkap, kata dia, BKSDA akan memindahkannya ke habitatnya kembali, dengan catatan bahwa proses penangkapan dilakukan di luar hutan lindung.

"Misalnya nanti tim kami menemukan harimau sudah kembali ke hutan lindung atau habitatnya, ya tidak akan ditangkap, tapi jika berada di luar habitatnya pasti kami tangkap," ucap Genman.


Kendati harimau sudah menewaskan lima warga dalam kurun dua bulan terakhir, kata dia, BKSDA baru kali ini dapat mengupayakan penangkapan harimau. Sebab serangan-serangan sebelumnya terjadi di dalam hutan lindung atau habitat harimau itu sendiri.

Sedangkan serangan yang menewaskan Sulis memang lokasinya hanya terpaut 100 meter dari pemukiman dan berada di luar hutan lindung.

"Kami juga meminta masyarakat agar tidak ikut memburu harimau apalagi membunuhnya karena satwa tersebut dilindungi Undang-undang," kata Genman.

Untuk memantau pergerakan harimau, BKSDA bersama pegiat konservasi harimau telah memasang kamera perangkap di enam lokasi yang pernah terjadi serangan harimau baik di Kota Pagaralam, Kabupaten Lahat maupun Kabupaten Muara Enim.


Sedangkan untuk menangkap harimau, pihaknya juga telah memasang satu kotak jebakan di Desa Muara Dua Kabupaten Muara Enim yang masih berdekatan dengan Desa Padang Bindu lokasi tewasnya Sulis.

Sebelumnya, Sulis (30) ditemukan tewas akibat serangan harimau saat sedang mandi di pemandian umum Dusun Sido Dadi Kampung 5 Desa Padang Bindu, Kecamatan Panang Enim, Kabupaten Muara Enim, Sabtu (28/12/2019).

Pascakejadian tersebut, Plt Bupati Muara Enim meminta harimau penyerang Sulis ditangkap baik dalam kondisi hidup ataupun mati karena dianggap sangat meresahkan masyarakat.


Editor : Kastolani Marzuki