China Pertimbangkan Campur Vaksin, Ada Apa?

Anton Suhartono ยท Senin, 12 April 2021 - 16:41:00 WIB
China Pertimbangkan Campur Vaksin, Ada Apa?
Ilustrasi vaksin. (Foto: Ist)

BEIJING, iNews.id - China mengakui rendahnya efektivitas vaksin mereka dibandingkan buatan negara lain. Untuk itu, pemerintah China berencana mencampur vaksin untuk lebih meningkatkan kemanjuran. 

Sebua data menunjukkan efektivias produk vaksin China, termasuk Sinovac dan Sinopharm tertinggal oleh Pfizer dan Moderna buatan Amerika Serikat. Namun vaksin China masih lebih unggul dalam hal penyimpanan karena tak memerlukan suhu dingin yang ekstrem.

"(Vaksin) Tidak memiliki tingkat perlindungan sangat tinggi. Suntikan menggunakan vaksin dari jalur berbeda sedang dipertimbangkan," kata Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China, Gao Fu, dalam acara di Kota Chengdu, Sabtu lalu, dikutip dari Reuters.

Gao menambahkan, lembaganya juga mengambil langkah lain untuk mengoptimalkan kemanjuran vaksin, seperti mengubah jumlah dosis serta menentukan jeda waktu yang tepat antara suntikan pertama dan kedua.

China kini memiliki empat vaksin yang sudah mendapat persetujuan penggunaan publik di dalam negeri. Seorang pejabat mengatakan, negara itu kemungkinan akan memproduksi total 3 miliar dosis vaksin Covid-19 hingga akhir 2021.

Vaksin virus corona yang dikembangkan Sinovac memiliki efektivitas sedikit di atas 50 persen dalam uji klinis di Brasil. Studi terpisah di Turki menghasilkan efektivitas 83,5 persen.

Sejauh ini belum ada data final dari hasil uji klinis vaksin buatan Sinopharm. Namun berdasarkan pengujian sementara, dua vaksin yang dikembangkan unitnya memiliki efektivitas masing-masing 79,4 dan 72,5 persen.

Angka itu masih di bawah efektivitas produk Pfizer yang berada di angka 95 persen, demikian pula dengan Moderna.

Kedua produsen vaksin China telah mempresentasikan data produk mereka pada Maret lalu yang menunjukkan tingkat kemanjuran sesuai dengan syarat yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Editor : Berli Zulkanedi